Rabu, 22 Ogos 2012

Jalan Ulama: Bersama Umat


Ulama tersohor Nusantara, Abdul Majid bin Abdul Karim Amrullah, Hamka yang meninggal pada tahun 1981 ketika berusia 73 tahun pernah menukilkan dalam buku Ayahku bahawa ayandanya, Haji Rasul, Abdul Karim Amrullah yang juga merupakan tokoh ulama terbilang alam Melayu pernah menyebut:

Ulama-ulama tidak boleh kalau hanya duduk-duduk tafakur di suraunya sambil menggeleng-gelengkan kepala seakan-akan kepala itu diberi per lalu membilang-bilang tasbih kayu mati. Ulama harus tampil ke muka masyarakat memimpin menuju kebenaran. Dan itulah kewajipan kami. Buat itu kami bersedia mati. Banyak orang membisikkan kepada saya melarang saya selalu menyebut kafir. Seakan-akan kata-kata kafir itu sangat menyinggung perasaan orang. Bagaimana saya akan berhenti menyebutnya dan apakah ayat-ayat dalam al-Quran yang menyatakan itu mesti diconteng?

[Ayahku; Pustaka Dini; cet. 2010; hal. 236-237]

Catatan: 'per' bermaksud spring sebagaimana yang disebut oleh Kamus Dewan Edisi Keempat.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan